Berhenti.

Sampai dimana kita? sampai aku lupa bahwa kita sudah memutuskan untuk saling berhenti.

Namun, hanya aku yang benar-benar berhenti. Ya, berhenti sekaligus tertahan dengan kenangan yang memaksaku untuk tetap tinggal di sebuah rasa, yang bahkan sang pemberi rasa sudah pergi entah kemana.

Kamu berhasil sekarang. Selamat! karena telah mampu berjalan kedepan dengan menggenggam tangannya, tanpa ragu, tanpa harus tahu perihal aku.

Harusnya, kamu mengajarkanku terlebih dahulu untuk tidak jatuh terlalu dalam pada kata-kata yang sering kamu utarakan, tentang janji setia yang begitu fasih kamu lafalkan.

Inginku membenci, tapi untuk apa? Malah aku harus berterimakasih padamu, karena sudah membuktikan dirimu sendiri yang memang tak pantas untuk dimiliki, tanpa harus mengorbankan banyak waktu untuk menelusuri begitu banyak desus diluar sana.

Aku bahagia jika kamu bahagia. tapi aku sangat benci dengan kalimat brengsek itu.

Tertahan pada yang lalu, sampai kapanpun bukanlah hal yang menyenangkan.

00:00
Pecinta Bintang,
Prabumulih, 22 Juli 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s