Dialog Hujan

   c360-2014-01-01-10-54-11-56a33b73f87a61c711736c76

 

                  Saa..

                   Lagi ngapain?

                Esa menatap layar ponselnya yang menyala. Suara Senar Senja menggema di tengah riuhnya kedai kopi sudut kota, Esa duduk di pojokan kedai berkutat dengan komputer jinjingnya. Jemari lentiknya menggeliat menari diatas tuts, merangkai kata demi kata sajak tentang kerinduan, menatap bulir hujan yang menempel di jendela kaca kedai sambil sesekali menyeruput caramel latte yang ia pesan. Esa tidak suka kopi pahit, meski begitu banyak kata-kata mutiara, filosofi kopi, dan lain sebagainya yang mendukung betapa berartinya kopi pahit. Namun tidak begitu bagi Esa, Gadis ini merasa bahwa hidup sudah terlalu pahit untuk menikmati kopi pahit, bukankah harus diimbangi dengan hal yang manis? Ya seperti caramel latte , juga seperti lelaki yang saat ini namanya tertera di layar ponselnya.

                Senyum manisnya megembang, pipi merahnya terangkat, membaca pesan masuk dari Bagus. Ia, lelaki yang Esa kenal sejak enam bulan yang lalu, pada saat pameran Handlettering yang diadakan di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Palembang.

                    “Tulisannya bagus..” ujar Esa.

               Bagus yang saat itu sedang merapikan pena gambarnya melihat kearah Esa dengan raut wajah heran. Ia mengerutkan dahinya hingga kedua alis tebal lelaki itu hampir menyatu.

                    “Kok bisa tau nama saya?” Tanya Bagus

                 Eh..Esa menaikkan alis kanannya, Esa yang sekarang heran.  Esa hanya memuji bukan menyebutkan namanya. Dasar modus lelaki zaman sekarang.. bilang aja mau kenalan pake ngomong kek itu segala.. Umpat Esa dalam hati.

               “Saya nggak tau nama masnya siapa.. saya Cuma bilang kalo tulisannya bagus.” Jelas Esa sambil menyelipkan senyum tertahan.

               “Eh iya.. berarti saya yang geer ya he he.. Nama saya Bagus..” Kata Bagus dengan muka memerah menjulurkan tangan kepada Esa.

              “Esa.” Jawab Esa seraya menjabat tangan Bagus.

               Cinta kadang hadir secara tak terduga. Diantara ribuan pengunjung pusat perbelanjaan, diantara ratusan peserta pameran itu mengapa harus Bagus? Cinta ialah kompas, tahu kemana arah yang harus dituju. Seperti Esa dan Bagus dipertemukan secara tak terduga, pada waktu yang tak terkira. Semenjak kejadian itulah Esa dan bagus menjadi dekat.

               Sekedar bertukar kabar hingga mengeluhkan betapa berat dan menceritakan betapa bahagia hari-hari yang mereka masing-masing lewati. Namun hanya lewat suara, surat elektronik, atau whatsApp. Ponsel menjadi hal yang pertama kali Esa peluk ketika ia merindu. Jarak tak mau tahu, ia akan terus membentang tanpa perlu menjauhkan atau mendekatkan, tergantung usaha dua insan yang mencinta untuk saling menggenggam. Bagus yang tinggal jauh darinya, tak bisa sering-sering bertatap muka secara langsung. Hanya dari layar ke layar. Sesekali Esa membenci keadaan dimana ia tak bisa seperti teman-temannya yang bisa bercengkrama dengan kekasihnya kapan pun mereka mau.

               Gadis berkacamata itu memalingkan wajahnya kearah jendela kaca. Hujan turun sedikit dengan amukannya, entah mengapa hujan selalu saja berhasil membuat Esa merindu. Hujan hanya air, namun memiliki daya magis membawa bayang, rekaman memori perihal orang yang ia sayangi. Ditatapnya Rintikan hujan yang rela jatuh berlama-lama demi melepas rindu dengan bumi. Hujan yang tak selalu bisa bertemu dengan bumi, seperti halnya Esa. Menunggu dengan sabar, bertahan dengan tegar, hanya berbekal kabar untuk selalu setia. Saat jauh, yang dibutuhkan hanyalah rasa percaya, bukan rasa curiga. Namun tak dipungkiri, Esa juga gadis biasa. Gadis yang sering diserbu tanya ketika Bagus seharian tanpa kabar, dirundung rasa curiga bila Bagus tiba-tiba diam ataupun lama membalas pesan, digeluti cemburu ketika melihat beberapa postingan Bagus dengan teman-teman wanitanya. Namun sebisa mungkin Esa harus mampu menekan jauh egonya agar tidak menyulut sebuah pertengkaran.

               Saa…

               Pesan masuk dari Bagus membuyarkan lamunannya. Suasana ini bahkan membuat Esa lupa membalas pesan masuk dari Bagus.

              Iya?

             Aku rindu.

            Balas Esa dengan helaan nafas panjang. Rindu, itu berarti lagi-lagi Esa harus menunggu. Barangkali temu adalah salah satu harap yang ingin Esa segerakan. Namun, apa daya ia memang harus tetap menunggu hingga akhirnya rindu menjelma sebuah temu.

              Sore nanti aku ke Palembang:)

             Tunggu aku ya..

            Aku tau kamu rindu, udah jangan melamun mulu.

            Mata Esa terbelalak membaca pesan dari Bagus. Lelaki itu dengan cara sederhana mampu membuat Esa merasa istimewa. Senyum manisnya makin terangkat. Esa menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan jerit. Hentakan hak sepatunya yang berkali-kali membuat beberapa pasang mata menuju padanya. Esa menyadari pandangan itu, kemudian menghentikan hentakan kakinya. Memberikan senyum semanis yang ia bisa.

            Iya, Aku tungguuuu…..

            Balas Esa sumringah. Hujan kini tak lagi membelenggu, mendung seakan berganti cerah dengan cepatnya, karena ia bahagia.

4 tanggapan untuk “Dialog Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s