Si Pemecah Batu

“Ah sulit sekali memecah batu ini.” Decak Kuba kesal. Langit saat ini sedang tidak berbahagia, kelabu menggeluti pertanda sebentar lagi akan turun hujan. “Istirahatlah Kuba, sudah hampir sehari penuh kau berusaha memecahkannya. Dirimu juga butuh istirahat, bekerja saat tubuhmu lemah rasanya percuma saja.” Ucap Jingga. Kuba melihat Jingga sekilas dari sudut matanya, tanpa berpaling sedikit pun Ia masih melanjutkan pekerjaannya.

Jingga menghela nafas panjang, mencoba memahami sifat rekan kerjanya yang terlalu ambisius dan begitu keras kepala. “Batu itu sangatlah keras, pun dirimu. Keras dan sulit di pecahkan. Entahlah.. Tak selamanya keinginanmu dapat tercapai, jangan sampai ambisi yang menggerogoti jiwamu turut membunuhmu secara perlahan, seperti sekarang kau abaikan rasa lelahmu, padahal jika kau tumbang kau tak akan mampu bekerja keras lagi.”

Peluh semakin deras meluruh dari laki-laki itu. Namun ia tetap mengabaikan perkataan rekan kerjanya dan tetap memukuli batu yang tak kunjung terpecah. Jingga menggelengkan kepala melihat betapa kokohnya pendirian Kuba hingga perkataannya tadi tak digubris barang sedikit pun. Kelabu semakin menjadi hujan turun dengan sedikit dengan amukannya. “Ayolah, hujan mulai turun.” Ajak Jingga, namun Kuba tak sama sekali menghiraukannya. Dengan putus asa Jingga pun pergi meninggalkan Kuba beserta ambisinya terguyur ribuan rinai, dengan harap kelak kerasnya terpecah jua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s