Temaram

Bagaikan kompas yang selalu membawamu menuju pulang, begitulah kuharap doa yang akan membawamu menuju aku.

Detak jam mengisi keheningan malam ini. Berkali bola mataku berputar menujunya, tetap saja jarum jam seakan begitu lamban merangkak.

Saat ini pukul dua dini hari, dimana hampir seluruh umat manusia terlelap dan dibuai manja oleh mimpi-mimpinya—aku malah terbangun karena kejadian beberapa jam yang lalu.

Seperti biasa, menuruti anjuran dokter—aku harus tidur tepat waktu yakni pukul sepuluh malam. Melihat kondisi kesehatanku yang belakangan ini tidak layak untuk begadang, aku lebih memilih untuk tidak selalu dikejar deadline dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Pukul sembilan lewat tiga menit tadi, iseng-iseng aku membuka aplikasi whatsapp yang hampir berkarat, mungkin? karena sudah lama tak ku sentuh atas sebuah alasan. Sepenggal nama yang sengaja ku arsipkan pesannya—timbul di deretan pertama di antara status-status kontak WA-ku. Tentu saja aku penasaran setelah sekian lama tak bertukar kabar, meneguhkan hati untuk dengan tega menikam rasa yang memang tak semestinya.

Barangkali rindu tak hentinya menggerutu karena keras kepalaku yang membentangkan jarak begitu jauh, meninggikan ego semauku untuk tidak menyapamu. Yah, terserahlah. Dalam hal ini aku hanya ingin berusaha untuk tetap istiqomah atas langkah yang aku ambil. Menjauhi dirimu untuk diri-Nya, Sang Maha Pemilik Cinta.

Keputusan ini terbilang sulit untuk aku jalani. Layaknya anak muda yang tengah dimabuk cinta—semua terlihat baik-baik saja, seakan seisi semesta merestui apa yang mereka lakukan. Namun pada nyatanya, cinta ialah menjaga bukan menjarah.

Hijrah, ketika sudah banyak fakta yang kita ketahui—apakah kita akan berpura-pura tuli untuk tetap melakukan hal yang tidak Allah ridhoi? Saat itu keputusanmu pergi sangat berarti, mewakili keinginanku yang telah lama terpendam karena takut akan timbul rasa benci.

Pergi menjauh adalah hal yang terbaik yang bisa kita lakukan. Aku pergi bukan berarti membenci, hanya berharap suatu saat kita akan saling mengisi, dengan ikatan yang tentunya Allah Ridhoi—Ku harap kamu Pun begitu. Belajar tanpa henti, untuk memantaskan diri.

Aku cukup tergetar melihat postingan statusmu yang menampilkan beberapa penggal nasihat untuk muslimah, dan juga potret-potret muslimah yang patut diteladani, MasyaAllah. Apakah kamu sedang jatuh cinta? Dengan siapa? Entahlah..

Aku sadar, usahaku belum seberapa. Jika diibaratkan, aku bagaikan remahan kerupuk kulit di dalam kaleng biskuit lebaran: tidak ada apa-apanya. Ilmu yang ku punya masih sangat sedikit, bagaimana aku bisa bersaing dengan muslimah yang mungkin juga mengidamkanmu.

Tidak ada cara lain, maaf aku curi namamu sebentar untuk ku diskusikan bersama Rabb-ku hihii. Cara curang namun nampaknya halal yang bisa aku lakukan. Sebenarnya aku tak perlu risau, bicara masalah jodoh sudah dijamin di dalam Al-Quran, bahwasannya Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitu pun sebaliknya. Jodoh itu rahasia, yang penting kita usaha.

Dengan mata yang tetap terjaga, aku putuskan mengambil air wudhu untuk melaksanakan qiamulail. Pernah dengar kalimat “Sebelum mendekati ciptaan-Nya, dekati dulu penciptanya.”? Ya.. Kalimat itulah yang membantuku untuk menjalani proses berhijrah, namun bukan berarti aku hijrah hanya karena jodoh ya, bukan. Hanya ingin berbagi, mengenai isi hati yang nampaknya sulit untuk diketahui seorang diri.

Mencintai dengan sewajarnya, menerima dengan apa adanya. Biarlah aku jadikan ini cinta yang paling rahasia, dimana hanya aku dan Maha cinta yang mengetahui. Membentang jarak pada nyata bukan berarti turut menjauh dalam doa. Diam-diam namamu turut kusertakan dalam perbincangan bersama-Nya.

3 tanggapan untuk “Temaram

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s