Gaduh

Hai!

Apa kabar?

Seperti biasa, hari ini masih sama. Menyibukkan diriku dengan beragam perkara tugas kuliah dan agenda organisasi. Hahaha, andai kamu tahu, mungkin banyak kosa kata omelan yang akan terlontar seperti “Ngurusin hidup orang terus siii, sampe lupa ngurus diri sendiri.” atau “Istirahatlah, karena aku pingin lihat kamu waras lebih lama, cape tuh kangen saa kasur.”

Tapi, memang akunya yang sulit mengiyakan perkataanmu. Menyibukkan diri adalah suatu upaya untuk mematikan rindu, bersandiwara dengan waktu hingga merasa jarak bukanlah hal yang amat mengganggu. Hingga kini, sekelumit nasehatmu untuk tetap baik-baik saja masih menjadi pengingatku untuk tidak selalu bersikap jahat pada diri sendiri.

Malam ini, rasanya ingin sekali untuk tidur cepat namun sayangnya rindu mengundangku untuk mengenang. Dasar! Biasanya, segala kisah tentang betapa melelahkan hari yang aku lalui selalu kutuangkan dalam ruang percakapan kita. Namun sekarang keadaan berbeda, masing-masing dari kita memilih untuk membentangkan jarak lebih lebar atas sebuah alasan yang menurutku itu terbaik untuk kita berdua.

bagaimana kabarmu? Apa yang saat ini menjadi fokus sibukmu? kenapa berhenti membuat handlettering? ah… banyak sekali pertanyaan yang ingin kuajukan padamu, termasuk “Apakah kamu rindu aku?”. Sebal, setelah pergimu aku hanya dapat menerka apa yang sedang kau lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Selain itu, berulang kali ku refresh kolom pesan dan status kontak di whatsApp, twitter, juga sosial media lainnya namun kabar darimu tetap samar.

Aku rindu, Si pendengar terbaik yang mampu menenangkanku hanya dengan beberapa kata. Tempat segala keluh kesahku berpulang. Kamu yang tidak pernah suka keramaian dan basa-basi, namun selalu tertarik dengan obrolan yang kadang membuatku bingung, receh. Aneh bukan? tapi aku selalu senang membantumu untuk mengatasi permasalahan “anti sosial” yang serigkali kamu hadapi. Seorang introvert yang mulanya kebanyakan ragu untuk melakukan sesuatu, termasuk mengambil keputusan mengantarkanku menuju terminal untuk pulang.

Aku dengar, sekarang kamu punya kesibukan baru, benar kah? bergabung dengan organisasi fakultas dan kemudian diberikan kepercayaan untuk mengemban amanah sebagai “Orang penting” disana. Wah, mungkin berat bagimu. Doaku; semoga pundakmu senantiasa dikuatkan oleh-Nya, aku tahu itu berat tapi aku lebih tahu kalau kamu mampu untuk mengembannya.

Beberapa waktu lalu, adalah hari ulang tahunku. Tidak ada yang spesial sama sekali kecuali ucapan cinta dari kedua orang tuaku. Diantara ratusan pesan masuk, mataku tetap tidak menemukan sepenggal namamu kali ini. Jujur, dari pukul 11 malam aku mulai bertanya pada diriku sendiri; Apakah setelah bertahun mencoba lupa, rasanya akan tetap sama? dan ya… di hari itu, esoknya, esoknya lagi, hingga kini tidak satu pun ucapan “Selamat bertambah umur” muncul dari ruang obrolan kita yang kini sengaja ku kosongkan. Sedih? Iya. Namun, ya sudah setiap orang punya alasan masing-masing untuk melakukan sesuatu, bukan? dan aku yakin alasan itu adalah yang terbaik. Namun aku tidak pernah berharap alasan dibalik itu adalah kamu lupa.

Saat ini tidak banyak yang bisa aku lakukan, sekedar memupuk doa-doa untuk kemudian tumbuh dan mekar menjadi kenyataan baik. Semoga aku selalu bisa berprasangka baik dengan keadaan. Diantara rinai pertanyaan yang menghujam pikiranku, aku memilih untuk menerka-nerka dibalik sandiwara hati agar dapat terlihat baik-baik saja.

Entahlah, ragu. Pikiranku gaduh sebab rindu bukanlah perkara semu saat menunggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s