Asap Putih (2)

Rambut terkuncir rapi, tetap menggunakan kemeja flannel namun kali ini berwarna hitam dengan dalaman kaos putih. Sepagi mungkin aku bersiap untuk menjemput Rengganis, yang mungkin saat ini masih sibuk dengan berbagai macam aksesoris rambutnya.

Semalam, Ana sudah ku beritahu bahwa ia tidak usah ikut hari ini, bilang saja ke Rengganis kalau dia sedang sakit cacar. Jarum jam tepat berada di angka 07.49, sebelas menit lagi aku harus sudah sampai di indekosnya. Tidak menunggu lama, aku segera mengendarai sepeda motor dengan semangat. Semangat mengerjakan tugas, semangat bertemu dengan Regganis.

*****

Aku berjalan bolak-balik di depan kamar indekos. Katanya, anak pecinta alam itu; amburadul, tidak suka mengerjakan tugas, kerjaannya cuma kumpul-kumpul tidak jelas, terkadang kasar, garang, menyeramkan. Ahh… aku berusaha mengusir itu semua dari kepalaku. Bunyi klakson motor membuyarkan pikiranku, Sakti datang mengendarai sepeda motornya. Menyodorkan helm kepadaku.

“Nih pake,” katanya dengan dingin.

Tanpa bicara aku memakai helm yang ia berikan, langsung naik ke motor dan duduk di belakangnya. Hari ini, kami akan ke sebuah situs bersejarah di kota Palembang yaitu Bukit Siguntang. Perjalanan yang akan kami tempuh memakan waktu kurang lebih satu jam lima belas menit.

Sepanjang perjalanan, baik aku maupun Sakti membisu. Hanya desingan kendaraan memecah jalan raya yang lumayan lenggang pagi ini.

“Katanya kamu pecinta alam?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Iya, kenapa?” Balasnya sambil memperlambat tarikan gas.

“Kok kamu nggak cinta sama diri kamu sendiri, nge-rokok gitu..” jawabku tanpa berpikir panjang.

Aku langsung menggigit bibir bagian bawah berusaha menahan perkataan yang keluar dari mulutku. Sakti melirikku dari kaca spion, aku balas menatapnya, ia hanya terkekeh kecil.

“Sekarang aku tanya, katanya kamu cinta negara ya?” tanya Sakti.

“Iya.” Jawabku singkat.

“Kenapa nggak cinta sama aku?” sahutnya tanpa menoleh sedikit pun.

Aku tertohok dengan kalimat yang barusan diucapkannya tadi.

“Kenapa harus?” aku balik bertanya.

“Cinta sama aku sebagai warga negara maksudnya,” jawabnya disusul dengan tawa.

Aku menoyor helmnya sambil berusaha menyembunyikan senyum.

Di depan toko bangunan yang baru saja kami lewati, terlihat seorang pria mungkin berumur 30 tahun, berambut gimbal. Dengan pakaian compang-camping, sedang mengais tong sampah dari ban plastik yang dicat warna hijau. Orang gila, pikirku.

Bukannya aku tidak peduli, hanya saja aku terlalu takut mendekati orang gila karena trauma masa kecilku. Aku hampir kehabisan napas karena menenggelamkan diri di daloam kolam ikan sekolah, untuk bersembunyi dari kejaran orang gila yang sering lewat di lingkungan sekolah dasarku dulu.

Sakti memutar balik motornya, menuju ke sebuah warung masakan padang di seberang toko bangunan tadi. Aku hanya bisa ikut, mungkin dia lapar. Lelaki itu menyuruhku duduk di kursi panjang depan warung, kemudian ia masuk ke dalam. Setelah beberapa menit Sakti keluar membawa satu kantong plastik berisikan nasi bungkus.

“Tunggu sini bentar,” pintanya.

Aku mengangguk menyetujui. Sambil bernyanyi kecil aku melihat Sakti menyebrangi jalan, berjalan menuju ke arah orang gila yang aku lihat tadi. Mataku terbelalak ketika Sakti memberikan sebungkus nasi itu kepada orang tersebut. Lalu ia kembali berjalan ke arahku.

Emm.. mungkin ini yang selalu dikatakan orang, “Don’t judge the book by it’s cover.” Sakti yang terkesan garang, urak-urakan, ternyata memiliki sisi lain yang sangat menarik. Dia memperhatikan orang disekitarnya. Bahkan orang gila sekalipun, yang sering terabaikan keberadaannya. Aku pun tidak pernah mempunyai pikiran untuk memberikan nasi bungkus kepada orang gila yang jelas saja aku tidak kenal.

Tanpa sadar gurat senyum tergambar jelas di raut wajahku, ya.. sedikit kagum. Ternyata seorang pecinta alam, sumber dari asap putih yang membuatku kesal itu, garang tapi punya hati layaknya marshmallow, lembut. Hihihi..

Karya: Annisa Dwi Kurnia

Dimuat juga di Gelorasriwijaya.co

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s