Asap Putih

Fluhh..

Asap putih mengepul di hadapanku yang baru saja keluar dari gedung jurusan. Aku menghela nafas panjang lalu kubawa pandangan kepada sosok yang menjadi sumber asap putih menyesakkan itu. Dengan tatapan yang berusaha aku tajamkan ditambah sedikit kernyitan di dahi, kudapati sosok lelaki berambut gondrong sebahu, memakai kemeja flannel hijau yang semua kancingnya terbuka, memperlihatkan kaos hitam polos di dalamnya.

Dengan santainya ia hembuskan lagi asap itu, kali ini tepat menerpa wajahku. Aku terbatuk, tanpa berpikir panjang ku rebut “Tuhan sembilan senti” itu dari apitan kedua jarinya. Aku hempaskan, lalu kuinjak dengan penuh emosi hingga tembakau di dalamnya lumat bercampur dengan tanah. Lelaki itu mendongakan kepalanya, menatapku dengan cukup tajam. Lebih tepatnya lagi garang.

“Ups.. Sorry ya keinjek,” ujarku dengan senyum seadanya lalu bergegas pergi, diikuti Rahma, salah satu sahabatku.

Untungnya sedikit kekesalanku berkurang karena sudah membumihanguskan sebatang rokok itu. Jarum jam menunjukkan pukul 12.45 itu tandanya 15 menit lagi aku harus sudah sampai di gedung rektorat untuk melakukan wawancara mengenai isu pencairan dana beasiswa bidikmisi. Hari ini adalah pertama kali aku melakukan wawancara dengan pihak rektorat, mengingat statusku sebagai wartawan kampus yang baru saja dilantik, semua harus berjalan lancar, berpenampilan serapih mungkin, dan tentunya wangi.

Namun, lelaki gondrong itu mengacaukan segalanya. Bau asap rokok masih tercium lekat di rambut dan kemejaku. Tahan.. jangan biarkan orang lain mengacaukan harimu, tenangku dalam hati. Aku mempercepat langkah, Rahma terlihat ngos-ngosan dibelakangku. Jarak dari gedung jurusan ke gedung rektorat memang cukup jauh, mengingat kampusku ini merupakan kampus terluas se-Asia Tenggara.

*****

Putri Rengganis, sering kali dipanggil Anis. Tidak cantik, tidak juga baik padaku. Alisnya tebal, kedua matanya bulat, tidak terlalu besar namun selalu berbinar, mengingatkanku pada ribuan bintang yang ku tatap dari Puncak Dempo tiga minggu yang lalu. Hidungnya mancung mencuat, terkesan sombong, meski aslinya tidak sombong sama sekali. Tatapan matanya tajam hampir mendekati sinis, kalau tersenyum sosoknya berubah drastis menjadi gadis manis, seperti brownis pakai toppingkismis ehehee.. itu menurutku ya.

Jika ada kesempatan, aku lebih suka memanggilnya Rengganis dibandingkan dengan Anis seperti yang biasa orang lakukan, entah kenapa. Kejadian tadi membuatnya terus-terusan hadir di pikiranku. Tindakan luar biasa berani yang dilakukan seorang gadis, terhadap manusia menyeramkan sepertiku.

Ya, aku seorang pecinta alam dengan rambut gondrong sebahu, berpenampilan urak-urakan, dan kerap kali dianggap garang oleh banyak orang. Rengganis hadir di hadapanku, langsung menyita bahkan menghancurkan penenang pikiranku; sebatang rokok yang baru tiga kali kuhisap. Kalau mengikuti naluriku sebagai lelaki, pecinta alam yang dididik dengan keras sudah habis dia ku maki. Namun, siapa tahan melihat bola matanya yang terus-terusan berbinar? Ah, aku benar-benar lemah menghadapi situasi seperti ini.

Setelah puas menginjak-injak sebatang rokok, Rengganis pergi dengan senyum seadanya. Mungkin dia merasa bersalah, merasa puas atau bahkan takut melihatku yang terkesan garang ini? Entahlah..

Yang aku tahu, Rengganis tidak pandai matematika terutama statistik. Hampir tiga semester aku berada di kelas yang sama dengan Rengganis, ia cenderung pendiam namun jika sudah membahas soal politik dan negara, pecahlah kebisuan yang ia bangun selama ini. Ia memiliki pikiran yang cukup kritis.

Ketika ia berbicara soal politik dan negara, gadis itu tampak bergelora, meskipun seringkali kepalaku dibuat pusing dengan istilah yang sulit dimengerti dari setiap perkataannya. Jikalau disuruh memilih mendengarkan Rengganis bicara soal politik atau mendengarkan lagu Kalapuna dari Danilla, lebih baik aku memilih mendengarkan Kalapuna yang sedikit memusingkan kepala, ketimbang perkataan dari Rengganis yang entah apa itu maksudnya. Maaf ya Nis, Aku hanya tidak suka politik.

*****

Tinung..

Tinung..

Senyum mengembang yang tak kempis jua tersemat di wajahku. Ya, akhirnya selesai juga wawancara dengan pihak rektorat. Data yang aku dapat sudah cukup lengkap, tinggal diolah menjadi berita. Sedari tadi ponselku berdenting, ku raih ponsel yang ada di dalam tas sandang. 44 notifikasi dari grup kelas.

Sambil menyedot susu kotak rasa pisang yang diberikan Rahma tadi, aku membaca obrolan panjang di grup tersebut. Pembagian kelompok untuk pembuatan fillm dokumentasi tempat bersejarah di kota Palembang. Mataku menyusuri daftar pembagian kelompok.. Rengganis… mana ya? nah! Diurutan dua dari terakhir, kelompok 13. Rengganis, Ana, dan Sakti. Sakti.. Sakti.. Sakti?

“Sakti yang mana yak?,” tanyaku pada Rahma yang sedang asyik bermain Plants VS Zombiedi ponselnya.

“Wadu Nis.. Otak gua dimakan nih sama Zombienya!” kesal Rahma sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

“Yaa.. Sorry Ma. Abisnya aku gak tahu Sakti ini yang mana?” balasku dengan wajah memelas.

“Noh, yang rokoknya abis lu injek tadi, namanya Sakti,” jawabnya tanpa berpaling sedikit pun dari ponselnya.

Hadeuh..

Aku menepuk dahiku pelan, seraya mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Sakti, Jadi namanya Sakti. Bagaimana aku bisa lupa kalau lelaki gondrong itu teman sekelasku? Dan ternyata sekarang satu kelompok denganku lagi? Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu pepatah yang tepat untukku kali ini.

Lelaki gondrong itu memang tidak terlalu menyeramkan, berpenampilan urak-urakan, tatapannya cukup tajam terkesan garang. Yang aku ingat, terkadang ia terlihat keren dan jadi bahan perbincangan para kaum kecentilan di kelasku. Tapi.. ah sudahlah!

Terima saja apa akibatnya, mau dia marah atau tidak ya terserah. Aku hanya tidak suka dengan asap rokok itu. Apakah aku salah? Jawabnya tidak, ya karena Perempuan selalu benar.

Hujan turun dengan sedikit amukannya, kota kecil ini mulai diselimuti kelabu. Sebuah rasa bergejolak membuatku benar-benar ingin cepat pulang ke indekos. Ya, rasa khawatir jemuranku basah kuyup diguyur hujan.

Rahma harus cepat-cepat pulang karena takut kehabisan Transmusi (Angkutan pulang-pergi bagi mahasiswa yang tinggal di Palembang). Mau tidak mau, suka tidak suka, aku berjalan sendirian di trotoar yang mulai membasah. Aku ingin segera pulang, batinku.

Tinung…

Ponselku kembali berdenting. Sambil mengeringkan rambutku yang basah di depan kipas angin, kutatap nyala ponsel yang menunjukan sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ku kenal. Ugh.. aku paling tidak suka hal ini, menurutku Whatsapp adalah aplikasi untuk berkomunikasi dengan orang-orang terdekat saja, siapa yang berani memberikan nomor WA ku? Ini siapa lagi?

“Rengganis.” Isi pesan tersebut.

Tentu saja tidak langsung ku balas. Sebuah klarinet menjadi foto profil orang tersebut. Balas tidak ya? Ah mungkin hanya iseng.Seperti kejadian yang sedang marak, banyak mahasiswa di fakultasku yang terkena gendam akibat membalas pesan dari orang yang tidak dikenal.

Modusnya seperti itu, kehilangan uang ratusan ribu karena digendam oleh orang yang tidak dikenal melalui chat. Ah aku takut. Rambut panjangku mulai mengering, ku rebahkan badan sambil menatap langit-langit kamar indekos yang tidak terlalu luas ini.

Ku terdiam tersungkur tuk dibunuh waktu.. seingatku waktu itu kau bersamanya..ku menjadi bulan-bulanan.. oleh perasaan.. ku diabaikan dalam sendu.. hatiku membiru.. terperangkap… menggerutu…

Suara Danilla menyeruak memenuhi ruangan, menahan kelopak mataku yang hampir tertutup. Dengan malas kuraih ponsel yang masih bersuara. Nomor tidak dikenal tadi muncul lagi, kali ini langsung menelponku. Ada apa? Karena penasaran aku jawab telpon tersebut tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.

Sunyi.. Tidak ada suara dari seberang sana. Aku letakkan ponsel disebelahku dan mencoba kembali terlelap, biarkan pulsanya habis, iseng sih.

“Rengganis,” panggil suara baritone dari saluran telepon. Segera ku tempelkan ponsel di telinga. Aku masih diam, setengah takut setengah berani.

“Rengganis, ini aku Sakti. Kita satu kelompokkan?”

Bola mataku berputar dan segera bernapas lega, “Iya.”

“Besok pagi aku jemput dikosan kamu ya, jam 8 jangan lama.”

“Lah ngapain? Emang kamu tau alamat aku?” tanyaku sambil menggaruk kaki yang tidak gatal.

“Ya ngerjain tugas lah, mau apa lagi? Itu urusan gampang teknologi udah maju,” jawabnya.

“Mmm. Tapi..” Belum selesai aku berbicara, Sakti sudah memutuskan sambungan telepon.

Berpikir positif, itu yang aku lakukan saat ini. Aku harap Sakti tidak menaruh dendam padaku karena sudah lancang merampas lalu menginjak sebatang rokok miliknya. Aku menghubungi Ana dengan segera.

Sayangnya Ana tidak bisa ikut kerja kelompok besok karena tiba-tiba sakit cacar. See? Hal ini terjadi begitu saja. Dengan kebetulan aku dan Sakti satu kelompok, dengan kebetulan lagi Ana tidak bisa datang besok, dan itu artinya dengan kebetulan Aku dan Sakti dipertemukan setelah insiden asap putih itu. Semoga beruntung Nis, tenangku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s