Untuk Penyair yang Bermukim di Kepalaku

Halo! Aku harap kau dapat membaca tulisan ini sampai selesai dengan seksama.

Akhir-akhir ini aku menjadi sosok yang kurang sabar dalam menunggu, atau bahkan mulai menyerah untuk menunggu. Aku menyelamimu dalam sampai ambang napas, sedang kau berselancar di permukaan untuk menghirup udara bebas. Apa itu yang dimaksud tuhan sebuah kesia-siaan?

Aku pernah berbicara pada diri sendiri bahwa harus hati-hati menaruh hati, karena bisa jadi seseorang yang ingin kamu jadikan tempat penitipan sudah menggenggam hati yang lain. Sebelum ini, malam-malamku biasa saja, dipenuhi kata-kata dengan iringan musik dari Amigdala. Aku yang saat itu barangkali tak ubahnya gadis biasa yang hilang kepercayaan akan cinta, kau datangi dengan berbalok balok kemungkinan tentang indahnya hidup dengan cinta. Ah, muak rasanya.. namun kau tetap bertahan dengan berbagai teori yang lama kelamaan meluluhkanku juga. Sial!

Kini aku menjelma penyair keras kepala yang tersesat dalam rerimbun diksi. Selalu ada kau di tiap ranting sajakku, namun tak pernah ku temui aku didalammu. Ah benar saja, tidak ada aku, kamu, bahkan kita dalam tiap sajakmu. Aku baru sadar, katamu siapa saja bisa menjadi orang yang kau cintai dalam sajakmu, dan anehnya mengapa aku selalu anggap yang kau maksud adalah aku? Bodoh!

Kau berkisah pelan, penuh kehati-hatian, lalu menusuk seketika. Kau tidak salah, aku saja yang jatuh cinta begitu segera. Hingga kau pergi tanpa aba-aba, yang tersisa hanya sepi bersenyawa. Rasanya percuma saja menunggu, pun kau akan berpura tidak tahu. Terlalu rela meluangkan waktu untukmu, padahal aku hanya waktu luang bagimu. Lucu!

Hari ini sudah Juli, aku masih saja sibuk menanti, dengan harap kau akan lupa dari cara berpura tuli. Yaa.. mungkin nanti kau bisa sadari. Bahkan saat menulis surat ini aku bingung, inginku terus berselindung dibalik kata-kata bijak agar tetap terlihat kuat, namun nyatanya luka akan semakin parah jika dibiarkan menganga, bukan? Aku sedang menunggu seseorang yang keberatan untuk ditunggu.

Kau akan menyapaku ketika pukul 21 memilih pergi, seperti biasa. Namun tak kutemui lagi kau kemarin, hari ini, atau mungkin hari-hari berikutnya. Aneh, makin lama kau makin tidak sopan merepotkan isi kepalaku: Datang tanpa aba-aba, lalu pergi tanpa permisi. Kemudian aku sadar, kau tidak pernah benar-benar menetap dalam semestaku.

Semoga lekas temukan jalan kembali!

5 Juli 2019,

Dari aku, Penyair keras kepala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s