Selamat Hari Ranggi!

Entah sudah anak tangga ke berapa yang kujejaki, dengan napas tersengal hatiku tak berhenti mengumpat. Sebal! Manusia macam apa yang tega memproduksi asap sedemikian banyaknya disaat asap sedang ramai-ramainya berkerumun di kota ini.

Aku membuka kunci kamar dengan segera, meletakkan tas dan merebahkan segala lelah di tubuh. Menatap langit-langit untuk meredakan rasa marah yang entah harus bermuara pada siapa.

Di atas meja, sebuah Cupcake lengkap dengan lilin diatasnya berdiri diam. Kue itu aku beli selepas pulang kuliah di toko kue perpustakaan. Besok, seseorang yang bahkan belum sempat secara langsung ku tatap matanya berulang tahun. Meski berjauhan, aku tetap ingin menjadi satu diantara banyak orang yang mengingat tanggal lahirnya.

“Hai?” sebuah pesan keluar dari nyala ponselku.

Jam menunjukkan pukul 22.02. Sebuah pesan masuk darinya. Sengaja ku abaikan hingga pukul 00.00 tiba.

Menjadi sibuk sudah menjelma bagian dari hidupku. Menghadapi banyak kepala, mengurusi pelbagai masalah manusia, mengarsipkan segala surat menyurat, bahkan hingga lupa merapikan isi kepala. Namun satu yang sulit untuk ku abaikan, sebuah pesan masuk darinya. Padahal ia seringkali menimbulkan tanya yang membuat isi kepalaku semakin berantakan.

Pergi tiba-tiba sedang datang tanpa aba-aba. Kesal! Namun anehnya, segala hal menyebalkan itu dengan mudahnya ditoleransi. Ya.. Wajar saja harusnya aku juga sadar diri. Pun aku bukan siapa-siapa di tatanan semestanya, tidak punya andil apa-apa di laju kehidupannya. Maaf, sudah kepalang lancang menyukaimu.

Sembari menunggu pukul 00.00 tiba, aku mengerjakan revisian tugas akhir ditemani Jarryd James dengan 1000x-nya dan desingan pelan pendingin ruangan.

Aneh, malam ini waktu terasa lamban sekali bergerak, “Jam 12 kapan si?” batinku. Berapa kali buka tutup laptop, membuka instagram, hingga berselancar di galeri hp namun masih saja terasa lama.

Pukul 23.59, aku siap-siap untuk menelponnya lengkap dengan cupcake dan lilin yang telah menyala.

Pukul 00.01, telepon tidak tersambung. Ah iya, mungkin dia masih berkutat dengan urusannya. Segera ku tiup nyala lilin, dan kembali merebahkan diri, tanpa sadar terpejam.

Pukul 00.31 dia mengatakan kalau tadi tertidur dan sekarang terbangun. Menanyakan ada apa, tumben vc?

Pukul 00.59 aku terbangun dan mengecek ponsel, aku memastikan kalau hari-hari yang ia lewati cukup berat sehingga membuatnya tidur lebih dini. Karena lapar dan pupus harapan ku makan kue ulang tahunnya dan kembali menuju lelap. “Baiklah, rencanamu tidak berhasil Nis.” ucapku dalam hati.

Pukul 05.11 dia membalas pesanku, sekaligus memberitahu kalau saat ini ia sedang lelah dengan berbagai aktifitasnya. Sebenarnya, aku ingin segera mengucapkan selamat bertambah umur. Namun ku tahan, karena ku rasa keadaannya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Hingga kini pesanku juga belum terbalas, aku maklum banyak hal yang ada di dunianya, bukan aku seorang tentunya.

Ah iya, malam ini aku putuskan untuk menulis ini, aku takut nanti lupa. Selamat Hari Ranggi!

Selamat menjadi tua, ku harap kebaikan selalu mengiringmu. Semoga selalu bahagia, aku memang tidak bisa ada untukmu namun segala doa baik senantiasa menujumu. Maaf sudah menyebalkan dan tidak tahu diri, terimakasih sudah ada.

Annisa Dwi Kurnia,

12 November 2019.