Dan Jogja, Akhirnya Kita Bertemu!

dan Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja…

Haaaaa sebenarnya sudah lama aku ingin bercerita tentang ini padamu, namun sedihnya.. kemampuan menulisku akhir-akhir ini sedikit memudar semenjak kepergiannya.. Hash lupakan, bukan itu yang ingin ku ceritakan.

Jogja.. Kalau aku sebutkan kota itu lantas apa yang terbesit dibenakmu? Kalau aku siii.. Lampu kota yang berjejer sepanjang jalan malioboro, candi borobudur, film Raksasa dari Jogja, dan masihhh banyak lagi hal romantis yang berkelebat seketika mendengar kata Jogja.

Entah kenapa, sejak SMP mungkin, aku begitu terobsesi dengan kota pelajar ini. Mungkin ini yang dinamakan Cinta oh ini kah cinta ewh heheheh. Aku jatuh cinta dengan Jogja meski belum pernah bertemu sekali pun! Jogja bukan sekedar kota istimewa, namun juga magis. Berhasil membuatku terpanah hanya dengan membacanya di novel, terkagum hanya dengan melihatnya di TV atau internet, sejak itu lah aku inginnnn sekali berlabuh ke Jogja.

Waktu SMA, menuju kelulusan aku benar-benar ingin ke Jogja menuntut Ilmu, kuliah di salah satu sekolah tinggi khusus multimedia. Namun sayangnya harapku pupus, dan aku harus menimang kesedihan. Tak hentu di situ, aku tetap ingin kuliah di Jogja maka dari itu aku berusaha belajar sebaik mungkin agar nilai-nilaiku bisa membawaku menuju jogja. Dan ya! Menurut sebuah teknologi yang ada di tempat bimbel, nilai yang ku punya berpeluang besar untuk lulus di salah satu Pergutruan tinggi ternama di Jogja. Lagi-lagi aku memeluk kesedihan setelah izin yang kuajukan ke orang tua untuk belajar di kota pelajar itu tidak diterima.

Sedih, sangat-sangat sedih. Apalagi ditambah kenyataan kalau banyak temanku yang merantau ke sana. Ah, sudahlah saat itu kututup harap rapat-rapat untuk bertemu Jogja.

Rasa cinta dan rindu terus menggebu meski sudah bertahun. Semester 3 perkuliahan, aku memberanikan diri untuk bilang ke ibu kalau inginnn sekali pergi ke Jogja. Dua teman dekatku “rencananya” juga mau membersamai. Ibu bilang “Iya” Wah! Senangnya bukann main. Tapi, lagi-lagi rencana hanya jadi rencana, kedua temanku membatalkan rencana karena tidak mendapat izin dari orang tua mereka. Sedang aku, saat itu belum berani untuk terbang sendirian ke Jogja. Akhirnya yaa tidak jadi.

Semester empat perkuliahan, keinginanku tetap sama; ingin terbang ke Jogja. Berbekal tekad yang ya.. bisa dibilang kuat aku menabung uang dan mengikuti perlombaan untuk menambah dana untuk pergi ke Jogja di semester depan.

Hasil dari segala jerih payahku *cieila aku setorkan ke Ibu. Di semester 5 ini aku memberanikan diri untuk terbang ke Jogja menemui teman-temanku.

Rinduuuuuuuuu!

Tanggal 11 Desember 2019, akhirnya aku terbang ke Jogja seorang diri. Tidak seperti biasanya, aku ke bandara sendirian mencoba bertualang naik damri dan langsung disambut LRT menuju bandara. Kalo mau mudah sih yaa naik travel bisa langsung sampai bandara. Bagiku setiap perjalanan adalah pelajaran, aku ingin melihat lebih banyak hal dengan cara yang terkadang “menyusahkan” but thats okay!

Aku tiba di bandara pukul 5 sore, sedangkan konter check-in baru buka pukul 6 sore. Setelah menunggu beberapa lama, pukul 19.30 pesawat mengudara menuju bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Dengan jantung yang terus-terus berdegup tak karuan, aku ingin segera sampai Jogja, bertemu dengannya juga dua sahabatku yang siap menampung serta menemaniku berkeliling Jogja selama 10 hari ke depan.

Dari kaca jendela, lampu-lampu kota terlihat manis sekali, serupa bintang-bintang yang selalu aku kagumi. Beberapa kali pesawat mengalami turbulensi akibat angin yang cukup kencang. Dengan doa keselamatan yang selalu kupanjatkan berulang-ulang mataku terpejam.

“Penumpang Li*n air boing xxx selamat datang di Yogyakarta, sebentar lagi kita akan mendarat di bandar udara adi sucipto Yogyakarta”

Kurang lebih begitulah suara pramugari dari pengeras suara. Rasanya seperti mimpi, aku bisa sampai di kota ini. Pukul 21.15 aku tiba di JOGJA! Uwwwwwww senangnya bukan kepalang.

Sugeng Rawuh

Tulisan di depan pintu masuk bandara menuju tempat pengambilan barang bagasi. Aku segera menghubungi Mega, mengabarkan bahwa sudah tiba di bandara.

Mega dan Sari datang menjemputku.

“Sugeng rawuh Annisa Dwi Kurnia, akhirnya sampai di Jogja” Sambut Mega. Sari turut menyambut dengan handphone yang sibuk merekam kedatanganku. Ah, bahagia! Senyum tak berhenti merekah, aku tidak pernah menyangka akan benar- benar menginjakkan kaki di sini.

Jogja, Akhirnya kita bertemu!

Jogja bagiku penawar patah hati paling mulia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s